Sabtu, 12 Maret 2011

Persahabatan Di Puri Grenceng

,
Persahabatan Di Puri Grenceng

Aku lelah ketika tahun 2006 melakukan On The Job Training di Bali. Ya…itulah yang harus beban tak’kalah sebuah kebakaran hebat melanda kontrakanku di jalan Willis Malang. Sebelum meninggalkan Kontrakan Willis Malang, aku berpamitan untuk melaksanakan kewajibanku sebagai mahasiswa Perhotelan.
Memutuskan untuk On The Job Training di hotel bintang lima di jalan Kartika Plaza itu. Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman baruku di Bali. Namun, aku bersama sepuluh temanku memutuskan untuk menyewa kamar kost di Puri Grenceng di daerah Tuban Bali.
Dalam benakku, aku akan bisa menikmati indahan pulau Bali. Pulau Bali yang begitu aku kagumi semenjak kedua kaki kecil menginjakkan tanah seribu pura itu. Pada saat aku duduk di bangkus SMP, aku hanya mengadakan liburan bersama teman-teman. Kini, aku akan merasakan bagaimana menjadi anak kost di pulau Bali yang sangat beda dengan pulau Jawa, pulau yang mana aku di lahirkan. Pulau yang paling dekat dengan pulau Bali.
Teman-teman satu kampusku begitu lucu-lucu. Dinda, teman satu-satu cewek yang bergabung untuk merasakan bagaimana On The Job Training di Bali itu. Bertubuh gempal dan hobi banget berbelanja tak’kalah uang kiriman telah tiba di rekeningan tabungannya.
Lain halnya dengan Albert, dia adalah ibu dari kami semua. Kenapa disebut ibu? Karena Albert bisa mengayumi kami semua di Bali. Dia memiliki pemikiran yang dewasa dari pada yang lain.
Sandi adalah sahabatku yang baru jadian dengan Reni. Namun, Reni terpaksa berpisah On The Job Training di Semarang. Jadi, kebiasaan Sandi adalah SMS dan telephone setiap hari. Agar si Reni tak selingkuh. Ceileh…
Lucunya, Heru, Wisnu, dan Dwi. Walaupun mereka memilik kost mereka berdua sering tidur di kost Puri Grenceng. Aji, temanku yang gila habis dengan anak pemilik kost bernama Menir. Kami menjuluki dia dengan julukan Menir karena selalu sok didepan para pembantu-pembantunya.
Kisah perjalanan anak kampus Universitas Merdeka Malang ( UNMER ) segera di mulai. Tahun 2006 tepat di bulan Juli.
Diambil dari kisah Albert saja… kalau semuanya pada minta dikisahkan bisa-bisa panjang kali lebar cerpen ini. Kan Unsa minta maksimal 4 halaman. Maaf teman-teman bukannya kalian tak ada kisah lucu di Bali.
# 1. Pengalaman di rasia oleh Pecalang Bali…
Seminggu, kami anak UNMER Malang berada di Bali. Kami kost di Puri Gerenceng tepat dibelakang swalayan terkenal di daerah Tuban itu. Diawal kost, pengalaman yang tak bisa aku lupakan ketika Pecalang atau Satpol pp. mengerbek kost kami semua. Di pagi yang masih buta, suara-suara jangkrik masih bertalu-talu, Pecalang itu datang. Mengobrak-abrik kamar kost yang berjumlah 15 kamar itu.
“Punya KIPEM?” Tanya pecalang itu dengan kasarnya. Mencoba mengobrak-abrik pintu yang sengaja aku kunci dari dalam kamar.
“KIPEM?” tanyaku.
“Iya, Kartu Tanda Penduduk Sementara di Bali,”
Kami menggelengkan kepala.
“Ikut kami ke Banjar?”
“Banjar itu apa, pak?” Ujar Albert.
“Balai Desa,”
Kami diangkut layaknya tahanan. Naik di mobil sang Pencalang dan di data nama kami satu-persatu. Banjar itu terlihat ramai.
***
# 2. Mau Ibadah di Gereja sampai daerah Seminyak?
“Ric, aku mau ke Gereja.” Pamit Albert padaku.
“Loh kamu memang tahu dimana Gerejanya, Bet?” ujarku.
“Iya, ntar kamu nyasar lagi.” Imbuh Dinda dengan cemilannya.
“Kemarin sore, aku sudah jalan-jalan ngapain jalan menuju Gereja tuh.”
Albert sudah terlihat cakep. Bersih. Mengenakan baju hem dan celana hitam serta bersepatu. Albert begitu semangat untuk beribadah di Gereja yang terletak di dekat pembelanjaan baju Jogger itu.
Malam pun semburat. Kami anak kost berkumpul di kamar bawah. Ada yang nonton televise, tidur, atau melakukan kegiatan di malam dengan aktifitas masing-masing.
“Dinda…” suara Albert tiba-tiba terdengar di ujung ponsel Dinda.
“Ada apa?” Tanya Dinda sambil loundspeaker ponselnya.
“Aku nyasar…” suara panik Albert terlihat begitu jelas.
“Daerah mana?”
“Seminyak.”
“Apa Seminyak? Jauh banget…” teriak kami bersamaan.
“Tolongi aku…”
Kami semua saling pandang pada sosok Aji. Ya…hanya Ajilah yang bisa menjemput Albert yang kebingungan itu.
“Aji…” teriak kami bersamaan membubarkan lamunan Aji didepan teras.
“Ada apa?”
“Albert nyasar di daerah Seminyak,” ujar Sandi.
“Trus apa hubunganku?”
“Kamu jemput Albert di daerah Seminyak?” perintah Heru.
“Aku tak hafal daerah Kuta sekitarnya,”
Diam. Kami memutar otak cukup lama. Deringan suara ponsel Dinda kembali bersuara. Nama Albert tertera di layar ponselnya.
“Albert telepon lagi,” Dinda menunjukkan kepanikan luar biasa.
“Aji….” Panggilku dengan nada rendah.
“Ada, Ric?”
“Minta bantuan Menir?” pintaku.
“Gila apa kamu, Ric? Malu, tau!”
“Demi Albert. Demi pertemanan kita, Ji.”
Akhirnya, Aji luluh. Dia terpaksa untuk merayu si Menir anak pemilik kost itu,”Ok. Cukup sekali ini saja ya…”
Kami semua menggumbar senyum,”Terima kasih, Ji.”
Dengan wajah memelas, Aji mengeluarkan jurus rayuan pada Menir. Mungkin si Menir merasa kasihan pada kami semua, akhirnya mau mengantarkan Aji untuk menjemput Albert di daerah Seminyak. Nah…semua persahabatan yang abadi akan aku kenal. Bagaimana pun kesulitan menjadi anak kost akan kami jalani.
Oh…Bali bila semua menginjinkan lebih dari empat halaman, maka aku akan menceritakan kisah kalian semua teman. Aku kangen…2006 hingga 2011 persahabatan itu akan aku ukir dalam hatiku. Hatiku yang terdalam. Akan aku pahat kenangan pahit, senang, semasa kami semua On The Job Training di Bali.
***

0 komentar to “Persahabatan Di Puri Grenceng”

Poskan Komentar

 

Eric Keroncong Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates